Book Now

PERSONAL DETAIL

Salutation *

First Name *

Last Name *

Contact Number *

Email *

 

ACCOMODATION

Type of Room *

Arrival Date *

Departure Date *

Flexible Dates?

No. of Adults *

No. of Children

Children's Age

 

How did you hear about us?

Remarks

 

Ssst, di Maumere Ada Gereja Berbahasa Latin, Lho!

Ssst, di Maumere Ada Gereja Berbahasa Latin, Lho!

Tak hanya menjadi simbol gereja tertua, Gereja Sikka masih rutin menerapkan Bahasa Latin ketika Misa di Hari Minggu

Dahulunya Desa Sikka merupakan ibukota Kabupaten Sikka, namun setelah banyak pembangunan infrastruktur yang berpusat di Kecamatan Maumere, ibukota Kabupaten Sikka telah berpindah ke Maumere. Desa Sikka merupakan awal sentra masuknya perkembangan Agama Katolik pada abad ke-16. Maka tak heran, desa ini ramai dikunjungi para turis asing yang ingin berwisata rohani.

Selain pada Hari Raya Paskah dan Natal, waktu berkunjung ke Desa Sikka adalah Bulan Mei dan Oktober. Hal ini karena dalam tradisi umat Katolik, dua bulan tersebut adalah waktu paling istimewa  untuk lebih mendekatkan diri kepada Bunda Maria. Maka tak heran pada bulan-bulan tersebut, Desa Sikka sangat ramai dikunjungi turis nusantara maupun mancanegara yang ingin tahu tentang agama Katolik di daerah Maumere.

Salah satu gereja yang paling termasyhur di Desa Sikka adalah Gereja Sikka yang sekarang lebih dikenal dengan nama Gereja Santo Ignatius Loyola Sikka. Berbeda dengan gereja lainnya di Desa Sikka, gereja ini merupakan warisan dari Bangsa Portugis. Lalu, hal-hal menarik apa saja yang bisa ditemukan di gereja tersebut?

Banyak Menyimpan Sejarah Desa Sikka

Jika mengerti sejarah Indonesia, tentu cukup memahami beberapa bangsa yang pernah menjajah Indonesia sebelum merdeka. Salah satunya adalah Portugis. Bangsa ini banyak menduduki Indonesia bagian timur yang memang dikenal karena kekayaan rempah-rempahnya, termasuk wilayah Sikka. Hal inilah yang kemudian membuat pengaruh Bangsa Portugis sangat kuat di Desa Sikka. Warisan para leluhur masih sangat kuat terasa jika memasuki desa satu ini, termasuk Gereja Sikka yang dibangun di era kolonial Portugis.

Selain itu, kain tenun ikat yang merupakan buah tangan dari Kota Maumere ternyata sudah ada pada masa  Portugis. Jauh sebelum penjajah datang para mama (sebutan para wanita di Desa Sikka) telah menguasai keterampilan menenun. Hal inilah yang membuat corak dan motif kain tenun ikat Sikka memiliki ciri khas yang kuat. Tak heran bila akhirnya, begitu diminati oleh setiap wisatawan.

Tak hanya menjadi simbol gereja tertua, Gereja Sikka masih rutin menerapkan Bahasa Latin ketika Misa di Hari Minggu

Tak hanya menjadi simbol gereja tertua, Gereja Sikka masih rutin menerapkan Bahasa Latin ketika Misa di Hari Minggu

Umurnya Tak Hanya Hitungan Tahun

Gereja Sikka memiliki umur yang lebih tua dari negara Indonesia. Dibangun tepatnya sehari sebelum Hari Natal pada 24 Desember 1899. Jika dihitung sampai sekarang sudah lebih dari 100 tahun bukan? Meski sudah berusia tua, bentuk bangunan Gereja Sikka masih sangat kokoh, sehingga masih bisa digunakan secara layak untuk kegiatan peribadatan sampai sekarang.

Menggunakan Bahasa Latin

Selain memilik usia yang tak lagi muda, bukti kuatnya Gereja Sikka sebagai peninggalan Bangsa Portugis adalah aktivitas rohani yang dilakukan di dalam gereja. Bukan menggunakan bahasa Indonesia ataupun bahasa adat, Misa Minggu di gereja tua ini justru dilangsungkan dengan bahasa Latin yang tak lain warisan Bangsa Portugis. Oleh karena sudah dilakukan secara turun-menurun, penggunaan bahasa Latin pun lagi kendala untuk beribadat bagi penduduk asli Sikka.

Bangunannya Unik dan Kokoh

Meskipun sudah  berusia ratusan tahun, bangunan dengan dominasi sanggahan dari kayu ini masih tampak kokoh dan terawat, seperti gereja yang baru dibangun. Ini membuktikan jika penduduk Sikka sangat menjaga warisan adat sekaligus tempat peribadatan mereka. Bahkan, arsitektur aslinya yang bergaya kolonial masih bisa diamati di dalam gereja ini.

Terdapat Makam Raja

Ketika ingin belajar sejarah masuknya Katolik ke Pulau Flores, maka wajib datang ke Desa Sikka. Tepat berada di belakang gereja terdapat kediaman dan makam Raja Sikka, Don Alesu Ximenes da Silva. Karena dialah, agama Katolik berkembang pesat sampai saat ini di Maumere.

Begitu unik bukan Geraja Sikka ini? Kendati mayoritas penduduknya beragama Katolik, namun penduduk Sikka dikenal toleran dengan penduduk yang beragama minoritas. Supaya kunjungan ke Sikka tidak membutuhkan banyak waktu, pilihlah penginapan yang paling dekat. Wisatawan bisa memilih Hotel Capa Maumere. Fasilitas hotel yang lengkap dengan harga yang terjangkau, akan membuat waktu istirahat setiap wisatawan menjadi lebih nyaman usai menjelajahi eloknya Desa Sikka. Selamat berlibur, ya! (kln/it/nin)

Komentar anda: