Book Now

PERSONAL DETAIL

Salutation *

First Name *

Last Name *

Contact Number *

Email *

 

ACCOMODATION

Type of Room *

Arrival Date *

Departure Date *

Flexible Dates?

No. of Adults *

No. of Children

Children's Age

 

How did you hear about us?

Remarks

 

Mengenang Gempa Tsunami Maumere, 24 Tahun Silam

Mengenang Gempa Tsunami Maumere, 24 Tahun Silam

tsunami-flores

Pada bulan Desember tahun 1992 sekitar pukul 13.29 WITA, secara mengejutkan datanglah bencana besar yang melanda seluruh Kabupaten Sikka dan Flores lainnya. Gempa bumi  terbesar di Flores berkekuatan 7,8 pada skala Richter di lepas pantai Flores ini memporak-porandakan bangunan rumah-rumah warga, gedung, kantor, jalan dan fasilitas lainnya rusak berat.

Bukan itu saja, mimpi buruk sepanjang abad ini telah menghancurkan sarana tranportasi dan jaringan komunikasi. Semuanya lumpuh seketika. Yang paling mengerikan lagi, kurang lebih 2. 100 jiwa mati, 500  orang dinyatakan hilang, 447 orang luka-luka dan cacat, dan 5.000 warga mengungsi (wikipedia).

Lebih parah lagi, gempa bumi dahsyat itu juga disusul dengan gelompang paling gila yang mengamuk menghantam seluruh bangunan di sepanjang pantai hingga ke daratan. Jangankan sampan, truk besar dan kapal besar saja diangkat oleh tsunami dan dilempar ke daratan. Kota Maumere rusak berat. Seluruh warga penjuru Maumere ibarat hidup dalam kota hantu yang mengerikan, mayat bergelimpangan, rumah-rumah sakit penuh sesak dengan korban meninggal dan luka parah, dan isak tangis perempuan dan anak-anak tak terhindar lagi. Matinya lampu listrik membuat kota gelap gulita dan mencekam.


video : KABAR MAUMERE

Pulau Babi Tenggelam

Di hari penuh malapetaka itu, informasi mengenai keselamatan sanak saudara dan keluarga sangat simpang siur. Isu beterbangan dari mulut ke mulut bahwa beberapa pulau di seberang laut Kota Maumere semuanya tenggelam karena air laut naik menutupi seluruh bukit dan penggunungan. Ribuan warga seluruh penghuni Pulau Pemana, Palue, dan pulau-pulau kecil lainnya lari mendaki gunung Roka Tenda menghindari tarikan air laut mematikan.  

Isu yang sangat santer di hari yang paling pahit dalam sejarah bencana Sikka, adalah tenggelamnya Pulau Babi. Warga di pulau itu tidak luput dari gempa tektonik dan terjangan air laut yang naik menutupi pulau kecil itu. Warga kesulitan berlari menyelamatkan diri karena tidak ada bukit atau gunung yang tinggi seperti gunung Roka Tenda.

Rupanya, kejadian naas yang mengorbankan mayoritas warga kemudian bukan sekedar isu. Banyak pihak kemudian mengakui bahwa begitu banyak warga Pulau Babi menjadi korban terbanyak dalam tragedi kelam. Bisa diduga, 500-an lebih warga yang sampai saat ini belum ditemukan bukan tidak mungkin adalah warga Pulau Babi.

Saatnya Dibangun Tugu

Sejak tragedi getir nan perih silam, hingga saat ini belum terbersit dalam benak Pemerintah Kabupaten Sikka untuk membangun sebuah monumen atau tugu di Pulau Babi. Beberapa waktu lalu, Bupati Sikka, Yoseph Ansar Rera, bercita-cita luhur nan mulia membangun sebuah tugu atau monumen. Tugu itu diberi nama Tugu Tsunami.  Sayangnya, sang bupati kawan akrab Alexander Longginus ini malah menebang pohon-pohon besar nan hijau yang ditanam di jaman Bupati Woda Palle di Taman Kota Maumere untuk membangun tugu tersebut. Padahal, lokasi yang tepat untuk membangun tugu tersebut adalah di Pulau Babi yang paling banyak korban jiwa dalam tragedi 1992.

Apa keuntungan membangun tugu di Pulau Babi? Tantunya banyak dampak positif. Selain menjadi tempat sejarah mengenang peristiwa kelam gempa Tektonik dan Tsunami, dengan adanya tugu tersebut Pulau Babi akan menjadi obyek wisata kepulauan yang sangat keren bagi para wisatawan. Apalagi Pulau Babi memiliki pesona taman laut  yang cocok untuk menyelam.

Satu area dengan Teluk Maumere, tentunya akan membuat Pulau Babi yang dahulu penuh duka lara, menjadi tempat wisata yang bakal ramai dikunjungui warga di setiap akhir pekan. Hal ini akan menjadi mesin rupiah baru bagi Pemerintah dan Rakyat Kabupaten Sikka. Dari pada merusak taman kota yang sudah hijau, sudah saatnya tugu Tektonik atau Tsunami dibangun di Pulau Babi dan dihiasi dengan lampu sorot warna-warni, tentu sangat cantik menghiasi Maumere di malam hari.

Untuk diketahui, Pulau Babi adalah sebuah pulau kecil. Pulau Babi di seberang lautan biru Maumere merupakan dusun kecil di Desa Permaan,Kecamatan Alok Timur. Penduduk Pulau Babi banyak yang berasal dari Bugis Buton, Sulawesi yang beragama Muslim.Mereka berbaur dengan warga lokal. Mereka hidup dan menetap di Pulau Babi sudah berpuluh tahun. Rata-rata bermata pencaharian sebagai nelayan. Sekian puluh tahun, sejak Raja Don Thomas Cimenes da Silva menerima kaum Muslim menetap di Sikka, warga Muslim termasuk pulau babi hidup rukun, aman, dan damai berdampingan dengan semua umat Katolik dan agama lainnya.

Sejak tragedi Tektonik dan Tsunami, sebagian kecil warga yang hidup kemudian diungsikan oleh pemerintah ke pemukiman Nangahale. Namun, saat ini warga telah kembali ke Pulau Babi dan menetap di sana. Pulau Babi sangat mudah dijangkau. Menurut beberapa warga Sikka, hanya sekitar 15 menit menumpang motor ketinting dari Nanga Merah, Desa Bangkoor Nebe siapapun bisa tiba di pulau cantik alami ini. (Kornelius Moa Nita/ Suara Flores)

Komentar anda: